WELCOME TO MY BLOG!

new!

Advertisements

ONESHOT: Choose One

Choose One

 

Saya kembali! Dengan FF baru dan dengan tokoh baru, Yoo Yeon Seok! Kenapa Yoo Yeon Seok? Karena saya tergila-gila dengan peran dia sebagai Chilbong di drama Reply 1994. FF ini pun terinspirasi oleh tragisnya nasib Chilbong, hiks. Karena tak adil bagi Chilbong untuk dicampakan, makanya saya saking niatnya bikin FF khusus untuk Chilbong. Ada beberapa bagian FF ini yang diambil dari drama Reply 1994 karena saya tergila-gila dengan drama itu. Penting: ini sekitar 40 halaman word, siapkan cemilan. Lebih bagus kalau kalian sambil denger lagu yang saya rekomendasikan di FF ini, hehe. Selamat membaca!

 

***

 

Hidup adalah kumpulan dari pilihan-pilihan yang telah kau buat. Setidaknya itu salah satu pepatah yang kusuka setelah menonton drama Misaeng akhir-akhir ini. Sebanyak apapun pilihan yang kau punya, sebagus apapun pilihan yang datang menghampirimu, kau hanya bisa memilih satu. Satu hal yang akan menjadi alur penting hidupmu. Saat kau memilih untuk tidur daripada menonton drama favoritmu, itu adalah salah satu catatan yang membentuk ceritamu. Kau memilih mengistirahatkan tubuhmu ketimbang melihat wajah aktor kesukaanmu berakting di layar televisi. Terlihat sangat sederhana, ya? Namun, sesederhana apapun pilihanmu, akan terselip penyesalan dibaliknya. Karena bisa saja salah satu episode drama kesukaanmu yang kau tinggalkan untuk tidur itu adalah episode terakhir, dan kau tidak bisa melihat aktor tampanmu sampai dia berakting lagi untuk drama lain. Menyebalkan, bukan?

Sama halnya dengan cerita percintaanmu. Dari sekian banyak orang yang berusaha menjadi bagian dari kisah hidupmu, kau hanya bisa memilih satu. Satu orang yang akan berada di sampingmu, melengkapi ceritamu, dan mengakhirinya dengan akhir cerita yang bahagia. Hingga suatu hari nanti, ceritamu itu akan menjadi dongeng yang membuat anak-anakmu tersenyum dan melanjutkan cerita bahagiamu.

Continue reading “ONESHOT: Choose One”

Coming Soon

 

“Jadi kau ini apa?” aku mulai bosan dengan jenis pertanyaan itu. Tapi apa yang bisa kulakukan jika jawaban yang kutunggu ternyata bukan jawaban logis yang berbunyi kalau dia adalah manusia? Aku sudah menunggu jawabannya sekitar lima menit, lebih lama tiga puluh satu detik dari pertanyaanku yang sama sehari yang lalu.

“Itu tidak penting,” jawabnya membuang waktuku selama lima menit ini. Lima menit itu benar-benar membuang waktu, percayalah padaku. Aku bisa meletakan gagang telepon rumahku yang tergeletak menggantung tidak pada tempatnya dalam waktu lima menit, atau aku bisa menghabiskan sisa pie yang diberikan bibi Lina satu jam yang lalu sebelum ia datang. “Aku tidak ingin kau kecewa dengan jawabanku tapi apa yang ingin kau dengar?”

Aku mengangkat bahuku dan duduk di kursi meja makan. “Dengar, aku tidak bodoh.”

“Ya, kau memang tidak bodoh, kau pintar Emily,” sanggahnya.

Aku menatapnya kesal. “Aku tahu manusia tidak akan bisa pergi ke Norwegia dan kembali lagi ke Korea dalam waktu satu hari, dan kau melakukannya. Jadi apa pertanyaanku terlalu berat untukmu? Kau itu apa?”

Sam malah tersenyum, sedangkan aku sudah ingin melempar sesuatu. “Aku menggunakan jet pribadi, mungkin kau harus mencobanya lain kali.” aku memalingkan wajahku, dan Sam memerhatikan itu. “Apa jawaban yang akan membuatmu tenang?”

“Membuatku tenang?” tanggapku cepat. “Kau tahu, aku lebih suka jika kau mengatakan kalau kau itu vampir seperti Edward Cullen yang pergi ke Norwegia dan kembali ke Korea dengan berlari, atau mungkin Jacob si werewolf, kau berubah jadi serigala dan berlari dengan keempat kakimu ke Norwegia. Itu masuk akal,” jelasku.

“Itu hanya fiktif Em, mereka sama sepertimu dan begitupun aku. Itu hanya film, mereka merekayasanya,” jelas Sam. “Kau akan senang jika aku berkata kalau aku adalah vampir seperti Edward yang kau katakan itu?”

“Yea,” tukasku mengeluarkan isi pikiranku terlalu keras. Sam tertawa, dan aku sungguh ingin hal itu memang jadi kenyataan.

Sam masih setengah tertawa sebelum akhirnya terdiam dan melihatku dengan kedua matanya yang tajam dan berwarna biru tua pekat. Aku sudah menanyainya berulang kali apakah ia memakai kontak lensa atau tidak, tapi ia hampir mencongkel matanya waktu membuktikan padaku bahwa itu adalah mata aslinya, dan aku langsung percaya.

“Pejamkan matamu,” perintah Sam. Aku langsung menurutinya, bahkan jika ia mau melakukan sesuatu yang aneh pun aku tidak akan melarangnya, aku bersumpah. Sam menggenggam tangan kananku dan tidak mengatakan apapun sampai ia memanggil namaku.

“Em,” panggilnya. Ia selalu memanggilku begitu. “Buka matamu.”

Aku membuka mataku dan mengedipkannya beberapa kali. Awalnya aku kira aku sedang melihat lukisan di depan mataku sebelum angin berhembus dan menerbangkan uraian rambutku.

“Sam…”

“Norwegia. Tempat kelahiranku.”

ONESHOT: Here I Am.

Here I Am poster

 

 

Ehem, sekarang saya bawa nama baru, yaitu *jeng-jeng* Park Yoochun. Saya lagi ngefans berat sama Yoochun, jadi izinkan saya untuk selingkuh kali ini.

 
 

Ada temanku yang bilang, katanya seseorang yang selalu ada memiliki porsi yang lebih dalam kehidupan kita dibandingkan dengan seseorang yang hanya melihat kita istimewa. Benarkah seperti itu? Jika mungkin, aku pasti sudah melakukan penelitian untuk membuktikan hal itu. Tapi kemudian aku seperti terkena sihir. Aku terkena refleksi dari apa yang temanku bilang tadi. Dalam diam aku berpikir, “haruskah aku berpacaran dengan temanku?”

***

Continue reading “ONESHOT: Here I Am.”

ONESHOT: Guardian

Guardian Poster 2

ALL STORIES ARE TAKEN FROM AUTHOR’S POINT OF VIEW

“Dini hari tadi telah diketahui bahwa terjadi pencurian di salah satu Bank di daerah Cheongdangdom. Disinyalir kerugian mencapai ratusan juta won dan pelaku sama sekali tidak diketahui identitasnya. Sebelum melakukan aksinya, para pelaku terlebih dahulu mematikan semua CCTV dan sama sekali tidak ada barang bukti yang tertinggal di lokasi kejadian. Polisi sampai saat ini masih berusaha menemukan petunjuk yang bisa mengantarkan mereka kepada si pelaku. Sekian berita untuk siang hari ini…”

“Kami sekarang sedang berada di tempat kejadian perkara dimana sebuah aksi pencurian uang berjumlah ratusan juta won terjadi dini hari tadi. Polisi masih belum menemukan bukti apapun sampai saat ini dan mereka belum memberikan pernyataan apapun mengenai masalah ini. Diduga pelaku yang melakukan aksi pencurian ini hanya dilakukan oleh komplotan kecil. Apa sebenarnya motif si pelaku?”

Click!

Seorang lelaki mematikan televisi begitu melihat kedua berita di stasiun televisi yang berbeda dengan remotenya. Ia melemparkan remotenya ke sembarang tempat dan mengambil ponselnya yang terletak di meja di sebelah kanannya. Ada dua pesan yang belum ia baca dari nama yang sama.

  Continue reading “ONESHOT: Guardian”

Flash Fiction: ANGEL BESIDE ME

881 words…

Dua orang sedang berjalan berdampingan di sebuah tebing yang salah satu sisinya berupa jurang curam yang mengarah langsung pada kedalaman laut dengan suara deburan ombak yang menakutkan. Namun anehnya, salah satu orang yang merupakan seorang wanita sama sekali tidak takut akan hal itu berkat seorang lelaki gagah yang sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya sejak mereka turun dari mobil di tepi jalan tadi.

“Tebing ini tidak akan tiba-tiba longsor kan?” tanya si gadis yang berdiri di sisi lain tebing tersebut—tentu si lelaki lah yang berada di sisi jurang.

Continue reading “Flash Fiction: ANGEL BESIDE ME”

ONESHOT: When You Call It Love (EUNRI’S SIDE)

Cover

Recommended song : Song Joong Ki – Jeongmal

Aku berjalan menyusuri sebuah jalanan yang sama sekali tidak sepi menurutku. Orang disana-sini, suara yang saling beradu memekakan telinga, anak kecil yang berlari-lari tanpa keluhan sempitnya tempat ini, dan aku yang tidak peduli dengan semua itu. Aku terus berjalan, tanpa tujuan. Mencari sesuatu yang tak bisa kutemukan. Seseorang. Ya, aku sedang mencari seseorang.

“Mencari sesuatu, nona?” tanya seorang penjual boneka di sebelahku. Aku menoleh dan—sedikit—tersenyum. Aku menggeleng dan melanjutkan perjalananku lagi. Aku mengedarkan pandanganku dan terpusat pada seseorang yang jauh di depanku. Aku agak mempercepat langkahku. Berusaha mengimbangi langkahnya yang cepat dengan langkah setengah lariku. Aku terus mengikutinya sampai saat aku melewati persimpangan jalan yang penuh dengan penjual burung peliharaan berwarna-warni, dia menghilang. Aku memperlambat lagi langkahku. Hanya hembusan napas kasar yang aku keluarkan mewakili kekesalanku. Aku kehilangannya lagi.

––•Oo0oO•––

Continue reading “ONESHOT: When You Call It Love (EUNRI’S SIDE)”

Flash Fiction: ESOK HARI

497 words…

Kau sedang menikmati senja di pekarangan rumahmu. Ya, bukanlah pekarangan dalam arti rerumputan luas dimana kau bisa berbaring leluasa seperti sedang berada di Grindelwald Swiss. Bukan juga pekarangan yang selalu ibumu rawat yang penuh dengan bunga warna-warni bagaikan wisata taman bunga yang ada di taman nasional. Itu adalah taman kesukaanmu, tempatmu menghabiskan waktu, tempatmu bercerita dimana tidak akan ada yang menertawakan ceritamu itu, tempatmu mengisi waktu luangmu. Ya sebut saja sebuah rumah pohon dengan tanpa rumah di atasnya. Pohon yang mudah kau panjat dari loteng rumahmu. Tempat favoritmu.

Continue reading “Flash Fiction: ESOK HARI”

ONESHOT: We Are Different

cover

Our world is clearly different, can we be together?

——oooOOooo——

 

EUNRI POV

 

Dunia kami berbeda. Itu yang aku rasakan sekarang. Oh, bukan. Tapi itu memang kenyataan. Dunia kami memang berbeda. Tapi bagaimana saat aku harus membuatnya menjadi milikku? Oh… bunuh saja aku! Sebentar, membunuhku? Oh pernyataan macam apa itu? Membunuh orang yang sudah hampir mati seperti aku? Coba saja sebisa dan sesering yang kalian mau. Aku hebat kan? Aku tidak bisa mati kecuali karena satu hal. Aku bisa mati jika seseorang yang aku suka tidak menyatakan perasaannya padaku dalam jangka tiga puluh hari. Aissh… perjanjian yang gila! Pasti orang dibalik semua ini sedang tertawa bebas melihatku seperti orang tidak berguna di dunia yang mereka sebut bumi ini.

Continue reading “ONESHOT: We Are Different”

Flash Fiction: HE’S GONE

alone-girl-hair-lonely-sad-Favim.com-400319

258 words…

Kau sedang menikmati pemandangan diluar jendela, Hujan. Kau menopang dagumu dengan rambut terurai dan memejamkan matamu untuk fokus mendengar suara rintik air yang jatuh di depan pekarangan rumahmu sendiri. Kau tiba-tiba merasakan hangat di sekujur tubuhmu. Kau menoleh, dan mendapatinya ada disana. Duduk di sebelahmu.

“Disini dingin, dan kau hanya mengenakan celana selutut dengan baju lengan pendek. Kau tidak kedinginan?” tanyanya sembari menyelimutimu dengan selimut yang dibawanya dari kamarmu sendiri kala itu. Kau tersenyum. Merasa—amat sangat—nyaman berada di sebelahnya.

Continue reading “Flash Fiction: HE’S GONE”

Flash Fiction: CHOICE

 

206 words…

“Kau tahu, di dunia ini terlalu banyak pilihan. Untuk hal kecil sekalipun,” ucap seorang wanita mungil dengan rambutnya yang terjuntai bebas di belakang punggungnya.

“Oh ya?” jawab si lelaki. Sedikit banyak tertarik dengan apa yang si wanita katakan tadi.

Wanita itu mengangguk. “Kita ada disini bukankah itu sebuah pilihan? Kita lebih memilih hidup dari pada mati,” jelasnya. Si lelaki hanya tertawa dengan suara kecil. Continue reading “Flash Fiction: CHOICE”

Flash Fiction: LOVING YOU

tumblr_lgv5qrOPiP1qalxmqo1_500

251 words…

Dua orang manusia berbeda gender sedang duduk manis sambil melihat untaian bintang yang ada di depan mereka—saat mereka sedang berbaring di atas rumput yang sedikit lembab jejak hujan sore tadi.

“Hei,” sapa si lelaki. Si wanita hanya menoleh sebentar ke arahnya kemudian mengalihkan fokusnya lagi pada langit yang ada di atasnya.

Si wanita menghembuskan nafasnya halus. Seolah memberikan kenyamanan pada si lelaki di sampingnya. “Apa?” Continue reading “Flash Fiction: LOVING YOU”